Saturday, January 31, 2009

Anak-anak Mandiri

Biasa…., saya gelisah kaya cacing kepanasan lagi.

Saya memang tumbuh di keluarga yang percaya melakukan pekerjaan rumah tangga itu merupakan hal yang biasa dilakukan sendiri, tanpa harus ada perbedaan gender ataupun hirarki (misalnya, anak beres2, bapak leha2). Jadi misalnya, mencuci piring, menyapu, mengepel – itu tanggung jawab tiap-tiap anggota keluarga, termasuk ayah saya (yg notabene sebetulnya, anak tunggal).

Ada pembantu? Ada. Biasanya mencuci pakaian dan menyetrika. Atau juga menyiapkan sayur yang akan dimasak (nanti yang masak ayah atau ibu). Ya.., pembantu juga mengerjakan pekerjaan lain.., tapi tidak membuat kami invalid dan tidak mampu mengerjakan pekerjaan lain-lain itu kalau pembantu tidak ada.

Apakah Ibu saya ”ibu rumah tangga” yang tidak bekerja? Engga tuh. Ibu sibuk luar biasa. Kalau tidak membantu jaga kios, beliau akan keliling menjajakan dagangan (sampai keluar kota), membayar pajak, membuat kue untuk jualan, MENGAJAR, pokoknya, sibuk dah. Ayah? Ya, sama sibuknya lah. Karena itu, pembagian tugas di dalam rumah jadi bagian kehidupan.

Now, back to our present time. Sudah lama saya mengamati bagaimana anak-anak didik kita menjadi robot pintar sekaligus invalid. Mereka “pintar” matematika. Sibuk les macam-macam. Jauh lebih sehat dan bergizi (ya…, jangan bandingkan dengan kasus kurang gizi yang menyeruak ya), tapi kok ya INVALID dalam hal-hal sederhana seperti: menyimpan tas/sepatu mereka sendiri pada tempatnya, makan sendiri dengan bersih dan menyimpan perkakas makan ke tempat mencuci piring, dsb.

Sering saya menanyakan hal ini pada teman2 baik guru, kepala sekolah maupun pemilik/pengelola sekolah. Saya juga bertanya bagaimana agar metode mengajar kita mampu menyiapkan anak-anak kita untuk mandiri.

Saya sangat sedih mendapat jawaban yang sangat pesimis: TIDAK MUNGKIN. Sudah dicoba dan GAGAL. Percuma mengajar juga kalau ORANG TUANYA TIDAK SADAR. Kalau saya mengejar lagi dengan pertanyaan, “ah, masa sih?”, jawaban yang saya terima: “kamu kan tidak berkeluarga, tidak punya anak, kamu tidak tahu pusingnya berkeluarga, bekerja dan punya anak”. Dalam hati saya, lha…, kalo emang pusing, kenapa berkeluarga, bekerja dan punya anak doongg….he…he.. But, that’s not the point.

Atau, jawaban lainnya (yg kalo buat saya tuh lebih sebagai "excuse" dibandingkan reason) adalah:
• Itu kan keluarga elo. Jangan samakan keluarga elo yg aneh dengan keluarga pada umumnya dong.
• Buat apa ada pembantu? kita kan udah bayar mrk. Mending mengerjakan pekerjaan lain yg jauh lebih berguna dan efektif. Ngabis2in waktu aja.


Apakah betul tidak ada pengharapan? Kalau kita hidup tidak berpengharapan, untuk apa kita hidup ya? Saya hanya merasa justru dari hal-hal kecil yang sederhana itulah kita menanamkan nilai yang RUAARRR BIASA besar manfaatnya, untuk anak kita sendiri. Kita memberikan kemampuan hidup kepada mereka.

Dalam kegalauan saya, saya membaca sebuah bacaan sederhana dari sebuah buku bergambar untuk kelas 1 SD (pelajaran bahasa) yang memberi pengharapan. Saya kutip teksnya:

My Best Friend
My best friend is coming to spend the night. I’m glad she’s my best friend.
My best friend knows how to run faster and climb higher and jump farther than anyone.
My best friend can eat spaghetti with a fork and doesn’t drop any on the table.
My best friend knows how to point good pictures and doesn’t get fingermarks on the paper.
My best friend knows how to untie her shoelaces and how to do up the buttons on her pajamas.

(Pat Hutchins, Houghton Mifflin – Reading)

Dari bacaan sederhana itu saja para guru bisa mengajak berdiskusi dan mendidik anak-anaknya untuk makan sendiri dengan rapih, menghargai kebersihan, memasang tali sepatu sendiri, dan memasang kancing baju sendiri. Tapi…., anak2 itu juga tidak “nerdy”. Bahkan sebaliknya sangat sporty (satu hal yang juga tidak banyak dilakukan anak2 kita yang tinggal di kota).

Kemudian, saya melihat ke standard kompetensi PAUD. Ternyata, ada tuh masalah kemandirian di sekolah (bahkan di TK A):

Hasil Belajar Indikator
Dapat menjaga kebersihan
diri dan mengurus dirinya
sendiri
1. Membersihkan diri sendiri dengan bantuan. Misalnya: menggosok gigi, mandi, buang air, dll
2. Mengurus dirinya sendiri dengan sedikit bantuan. Misalnya: berpakaian sendiri, makan sendiri, dll
Dapat menjaga lingkungan
1. Mengembalikan mainan pada tempatnya setelah digunakan
2. Membuang sampah pada tempatnya
3. Membantu membersihkan llingkungan

Jadi, sebetulnya, either kegelisahanku seharusnya tidak valid, atau, program pemerintah yang salah .

Tolong jeng, mas, koh, cie, pak, bu…, Bantu saya untuk tetap melihat dan berpegang pada pengharapan dengan memberikan contoh nyata, bahwa:
1. anak-anak anda, atau anak-anak di sekeliling anda, tidak invalid kok…..
2. guru-guru anda tetap bersemangat dan menjalankan penanaman kebiasaan baik ini dengan penuh percaya diri.

Salam dari yang gelisah tapi berpengharapan,
Weilin

1 comment:

JoI said...

Wei, kalau dari pengalaman gw sendiri sebagai anak hehehe gw rasa penanaman value2 ini berasal dari ortu gw sendiri. Kalau mereka ngak peduli untuk menyusun sepatu pada tempatnya, mengosok gigi (ada lho ortu yg ngak ngosok gigi ehehe), mencuci piring sehabis makan, etc Why should I care ?? Mereka kan role model gw. Hal2 lain yg ditekankan tentunya ya nilai baik di sekolah... nilai baik di sekolah... dan nilai baik di sekolah. Memang penting yg academic tapi sepertinya terkadang timpang. Di keluarga gw ya seperti ini jg. Bercampur lah masalah2 keluarga tapi esensinya kalau emang Ortu ngak care why should I care :)