Saturday, January 31, 2009

No Bakat - No Love?

Pekerjaan dan aktivitas saya memberikan kesempatan yang sangat luas untuk berkeliling dan bertemu dengan anak-anak sekolah dasar maupun para remaja. Baik mereka yang di kota besar ataupun di pelosok Indonesia. Kaya, ataupun pas-pasan.

Dan selama pertemuan-pertemuan itu, saya sangat mensyukuri masa kecil dan remaja saya. Kami memang bukan dari keluarga yang secara ekonomi berkelimpahan, tapi orang tua saya RUUAAARR biasa dalam mencintai anak-anaknya. Salah satu pengalaman yang paling membekas sampai di usia saya yang melebihi kepala 4 ini adalah ketika suatu hari, pada saat hujan lebat di usia saya yang baru saja 4 tahun, saya dan papa naik becak. Saya duduk di pangkuannya, dan papa memeluk saya dengan hangat. Perasaan aman, dicintai, dan bahwa ada seorang dewasa yang berada bersama-sama saya pada hari yang tidak menyenangkan, menjadikan hari itu begitu indah.

Sementara itu, seorang kepala sekolah TK mengeluh karena ada seorang anak, yang didampingi secara khusus oleh seorang suster dan seorang supir, lengkap dengan mobil tersendiri, tapi tidak pernah bertemu dengan orang tuanya yang sangat sibuk. Para baby sitters lebih mengenal sifat dan kesukaan anak dibandingkan para orang tuanya sendiri. Tidak jarang pula merekalah yang mengambilkan raport ”anak-anak” karena orang tua tidak ingin rugi kehilangan bisnis.

Sebuah soal ulangan kelas 1 SD menggambarkan seorang ibu yang sedang memangku seorang anak. Pertanyaan di soal itu adalah: kasih sayang siapakah yang ditunjukkan dalam gambar itu? a) Mbak, b) Ibu, c) Ayah. Sang anak memilih jawaban /a/, yang tentu saja disalahkan oleh gurunya. Tapi, apakah jawaban anak itu tidak menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya? Bukankah mungkin bahwa dia memang mendapatkan kasih sayang dari ”mbak” dibandingkan dari sang Ibu?

Apakah kenangan Anda akan orangtua Anda? Sebaliknya, apakah kenangan yang ingin Anda berikan pada anak Anda ketika mereka beranjak dewasa dan kemudian juga menjadi orangtua?

I-Disease Syndrome
”Randy rangking berapa?”, ”Kamu ikut olimpiade apa saja?”, ”Eh, anakku ikutan Worship Idol, lho, tolong SMS ya ke no...”

Seorang anak perempuan sangat marah kepada temannya karena sang teman tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hebat ketika ia bercerita bahwa ia baru saja ikut konser piano. Dalam usia dininya, anak ini sudah bertumbuh dengan ”I-disease syndrome”. Saya tidak menyarankan Anda mencari arti istilah itu di Google, karena itu bukan terminologi resmi. ”I-disease syndrome” merupakan gejala dimana anak bertumbuh dan menjadi percaya diri hanya karena dia dianggap hebat. Ketika dia tidak dipuji, atau menjadi pusat perhatian, anak ini akan kehilangan motivasinya untuk belajar apapun, termasuk yang sebetulnya dia sukai.

Pernahkan Anda bertanya pada diri sendiri, seandainya anak Anda tidak berbakat apapun, prestasi di sekolahnya pun tidak menonjol bahkan cenderung lemah, bahkan secara penampilan pun tidak cantik, tidak menarik, tidak lucu, apakah Anda tetap akan mencintai anak Anda dan memenuhinya dengan segala kasih sayang, tanpa membanding-bandingkan dengan anak-anak lain? Tanpa terlintas kata, ”seandainya saja....”?

”Cacat” Sosial
Pada umumnya keluarga muda sekarang banyak yang hanya mempunyai satu orang anak. Karena tuntutan ekonomi, suami istri harus bekerja dua-duanya. Akibatnya waktu bertemu dengan anak menjadi terbatas. Tapi ironisnya, waktu efektif untuk anak bertemu dengan orangtua tidak berkorelasi positif dengan fakta bahwa kedua orangtua bekerja.

Di sebuah tempat hiburan untuk anak-anak, misalnya, tidak jarang ditemui anak-anak yang ”ditinggal” oleh orangtuanya, karena sang mama sibuk ke mall, arisan, atau berleha-leha di spa. Di sekolah-sekolah, tidak jarang para guru mengeluh karena para orangtua terlambat menjemput anak. Bukan karena kesibukan pekerjaan orangtua, tapi karena.., duh..., tanggung, rambut lagi di blow nih!

Karena itu pula, para orangtua merasa lebih aman dan nyaman memberikan setumpuk kesibukan les A sampai dengan Z kepada para anaknya, sehingga mereka juga sama sibuknya dengan sang orangtua. Alasan lainnya, ”daripada keluyuran di mall, lebih baik les.” Atau, ”saya kan tidak mengerti pelajaran yang diberikan, daripada ulangannya jeblok, sebaiknya dileskan saja.”

Para anak bertumbuh bukan hanya tidak mempunyai kesempatan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, tetapi juga tidak bersosialisasi dengan orang-orang lainnya. Mari perhatikan, hubungan teman dan guru di sekolah terfokus pada pelajaran dan nilai ulangan. Hubungan dengan kakak les sebatas materi pelajaran. Hubungan dengan orangtua sebatas pemenuhan kebutuhan fisik (pakaian, makanan, mainan, buku, dll). Bukan hal aneh bila banyak anak SD yang tidak mengetahui nama orangtuanya, atau nama kakaknya.

Hikikomori
Ada sebuah gejala sosial yang sangat mengkhawatirkan yang sedang terjadi di Jepang. Namanya Hikikomori. Misalnya saja seorang anak direbut pinsilnya di sekolah. Anak ini tidak berani melapor pada guru (karena murid di kelas banyak, dan tuntutan prestasi sekolah harus tinggi), dan tidak bisa bercerita pada orangtua (karena sibuk). Akhirnya, anak ini mengurung diri di kamar dan memutus komunikasi dengan dunia luar. Bukan sehari dua hari, tapi sampai dengan empat tahun!! Anak-anak bertumbuh sebagai ”manusia” yang cacat secara sosial. Mereka tidak mampu berkomunikasi, menghadapi dan memecahkan masalah bersama, bertumbuh bersama secara hangat dan kekeluargaan.

Bakat? Pintar? Rasanya, ada yang jauh lebih penting: menjadikan mereka ”manusia” dengan kebutuhan akan kasih sayang dari manusia lainnya, dari para orang tua, saudara dan teman-temannya. **(WH)

(box)Tonton Film-film ini
Film-film yang patut ditonton: “Simon Birch”, “Life is Beautiful”, “I not Stupid” (1 dan 2), “The Incredibles” (cartoon).

(box)
Weilin Han, M.Sc. adalah Konsultan Sekolah dan Pelatih Guru I-Teach Education Training Center. Dapat dihubungi di weilinhan@yahoo.com

1 comment:

Daisy said...

Weilin, ever heard of Charlotte Mason? she's amazing educator and her ideas are so alive. There is a book that summarizes her ideas and practicality well: When Children Love to Learn by Elaine Cooper.Her enthusiasm to see a child as a person always reminds me to treat my child with respect.As a mother who just came back to Indo after living overseas for years, I must say that what worries me the most about education nowadays is either it's really sucks or it's really stressful for a child to handle. Now, I am still homeschool my child since he's still 3. Learning for him is something that he's looking forward everyday..he loves it. I dread to imagine if one day, when he enters school, he loses that joy of learning. For me, it is not about a child being the top rank student in class, but whether he fears God and learning passionately what He creates with awes