Saturday, January 31, 2009

Sampah dan Kegiatan Belajar Mengajar

Saya baru saja kembali dari Ambon untuk melatih para guru Sekolah Dasar Negri dari beberapa daerah di sana. Saya tercengang ketika melewati tumpukan sampah di dekat pasar-pasar. Banyak sekali kardus-kardus besar yang dibuang begitu saja. Hmmm…., pasti pekerjaan menjadi pemulung belum dilirik di sini…

Daripada sekedar memikirkan peluang menjadi pemulung, saya lebih terbeban bagaimana pendidikan di sekolah bukan hanya dapat membukakan pemahaman bagaimana mengurangi sampah, tetapi juga memanfaatkan sampah sebagai bagian dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) itu sendiri.

Pendidikan yang baik harus ditunjang dengan perlengkapan yang bagus dan canggih. Apalagi kalau uang sekolahnya mahal. Pasti barang-barang yang dipakaipun harus yang mahal dan baru. Itulah yang menjadi paradigma banyak orang. Seakan-akan, kata bagus identik dengan mahal, baru dan canggih.

Ketika kita mengamini pendapat di atas, gerakan 3 R atau keinginan mengurangi sampah menjadi semboyan belaka. Pendidikan terhadap lingkungan hidup (resmi tercantum dalam kurikulum SD) hanya menjadi wacana diskusi sebatas ruang kelas dan pengukuran untuk mendapatkan nilai ulangan yang baik. Kalaupun dibahas, polanya pun masih menekankan cara ”khotbah” ataupun dialog tanpa aksi. Aspek kognitif tidak langsung terkait dengan sikap, padahal, katanya, penilaian di raport menyangkut aspek kognitif, afektif dan sikap. Dengan mudah kita mendapatkan siswa-siswi berseragam membuang bungkus permen atau plastik bekas minuman di dalam atau melalui jendela kendaraan umum. Tanpa ada rasa bertanggung jawab. Apalagi bersalah. Entahlah dengan para gurunya.

Pendidikan yang Memanfaatkan Sampah
Peluang dalam KBM yang dapat memanfaatkan sampah secara langsung tak terhitung banyaknya. Paling tidak, sampah kering. Dus-dus bekas berbagai ukuran bisa dipakai dalam pelajaran geometri (pengukuran tiga dimensi), dikaitkan dengan tata kota dan anak-anak membuat maket tata kota impian (IPS dan kertakes) dimana selanjutnya bisa dikembangkan menjadi bahan dalam mengajarkan skala dan denah (IPS dan Matematika). Gelas, sendok dan botol plastik berbagai ukuran dapat dipakai dalam pembelajaran pengukuran baik berat maupun volume.
Dus-dus bekas juga bisa dibuka dan dipakai bagian dalamnya untuk menjadi sarana menulis puisi dan membuat cerita (bahasa Indonesia). Guntingan-guntingan kecilnya bisa dibentuk berbagai ukuran (matematika kelas dasar) atau membuat simbol dalam menciptakan pohon keluarga (IPS). Brosur-brosur penawaran barang dari berbagai toko bisa dipakai untuk pelajaran klasifikasi, perbandingan, statistik, ekonomi, data dan peluang. Aah..., rasanya daftar bisa saja dibuat makin panjang bila kita saling menambahkan.


Pendidikan Politik Peduli Sampah
Ada banyak kesempatan untuk berdiskusi tentang pengelolaan sampah dalam pelajaran PPKN yang dianggap paling ”garing”. Dari mulai kelas 1 SD (melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat) sampai misalnya saja ke kelas 4 mengenai pemerintah daerah. Ketika dalam KBM mata pelajaran IPA sedang membahas lingkungan hidup, bukankah dalam PPKN kita dapat mengajak siswa untuk berdiskusi bagaimana memilih calon pemimpin yang peduli terhadap gerakan 3 R? Atau, ketika bicara mengenai pajak, bagaimana warga negara yang katanya dianjurkan taat pajak, bisa juga dicelikkan matanya untuk memperhatikan bagaimana pemerintah mengelola dananya untuk mengurangi sampah. Anak-anak bisa diajak membentuk kelompok masyarakat, pemerintah dan DPRD. Pengelolaan sampah menjadi topik diskusi. Sebelumnya mereka bisa diajak mencari artikel di koran mengenai permasalahan dengan sampah.

Mari, kita mewujudkan pendidikan pengelolaan sampah dengan cara praktis dan tidak birokratis ataupun teoritis.


Weilin Han, M.Sc.

2 comments:

Pri said...

Hmmmm... setuju sekali...
Hal ini menginspirasiku untuk melakukan survey khusus tentang apakah anak-anak belajar tentang kebersihan dari sekolah yang kemudian diterapkan di rumah dan lingkungannya?

Hari yang SPECIAL (^,~) Makaci

xrootboy said...

artikel yang bagus banget :)
http://yahoonext.blogspot.com